Tragedi Kebakaran Dahsyat Kramat Jati: Rumah Warga Ludes Terbakar
Sebuah kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat dini hari, 4 Juli 2025. Lima rumah warga hangus terbakar dalam peristiwa ini, menimbulkan kerugian materiil yang cukup besar.
Kejadian ini menyoroti kerentanan permukiman padat terhadap kebakaran dan pentingnya langkah pencegahan. Peristiwa ini juga menimbulkan keprihatinan akan keselamatan warga di area tersebut.
Kronologi Kebakaran di Cililitan
Api pertama kali terlihat sekitar pukul 01.07 WIB. Petugas pemadam kebakaran langsung diterjunkan ke lokasi.
Sebanyak 15 unit mobil pemadam kebakaran dan 75 personel dikerahkan untuk menjinakkan api. Upaya pemadaman berlangsung intensif.
Kebakaran berhasil dilokalisir sekitar pukul 01.38 WIB. Api sepenuhnya padam pada pukul 02.25 WIB.
Kerugian dan Korban
Kelima rumah yang terbakar memiliki ukuran 10×7 meter persegi. Total kerugian ditaksir mencapai Rp 210 juta.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini. Petugas berhasil mengevakuasi seluruh warga sekitar.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun, dugaan sementara api berasal dari rumah Bapak Deni Boy yang saat itu kosong.
Sumber informasi menyebutkan api telah membesar sebelum dilaporkan ke pos pemadam kebakaran terdekat. Hal ini menekankan pentingnya kewaspadaan warga terhadap potensi kebakaran.
Upaya Pencegahan Kebakaran di Permukiman Padat
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran dan kewaspadaan warga terhadap potensi kebakaran, terutama di permukiman padat penduduk.
Pencegahan kebakaran memerlukan kerjasama antara warga, pemerintah daerah, dan instansi terkait. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala sangat krusial.
Sosialisasi dan pelatihan penanggulangan kebakaran di tingkat RT/RW juga perlu ditingkatkan. Warga perlu dilatih cara menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Pemerintah dapat mempertimbangkan penyediaan akses jalan yang lebih memadai di permukiman padat. Hal ini akan mempermudah akses bagi mobil pemadam kebakaran.
Selain itu, penting untuk memastikan ketersediaan hidran umum yang berfungsi dengan baik di sekitar permukiman padat. Ini akan mendukung efisiensi pemadaman kebakaran.
Kesimpulannya, kejadian kebakaran di Cililitan menjadi pelajaran berharga. Pencegahan kebakaran di permukiman padat membutuhkan upaya bersama dan kesadaran kolektif.
Dengan meningkatkan kewaspadaan, melakukan pengecekan rutin instalasi listrik, dan menyediakan akses yang memadai, kita dapat meminimalisir risiko kebakaran dan melindungi keselamatan warga.
Kejadian ini juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap sistem penanggulangan kebakaran di wilayah tersebut, termasuk respon time dan ketersediaan sumber daya. Semoga peristiwa ini tidak terulang kembali.



